Duwet, Kalurahan di Wonosari yang Bertumbuh dari Pertanian, Budaya hingga Usaha Warga
Berada di jalur Baron, Duwet memiliki enam padukuhan dengan lebih dari 3.000 penduduk. Kehidupan warganya bergerak dari pertanian, pelayanan masyarakat, pengembangan UMKM hingga upaya merawat kesenian tradisional.
Duwet tidak hanya menjadi nama sebuah wilayah di Kapanewon Wonosari. Di tempat ini, kehidupan masyarakat berjalan melalui banyak lapisan: pertanian, kegiatan sosial, usaha warga, pelayanan pemerintahan hingga kebudayaan yang diwariskan lintas generasi.
Secara administratif, Kalurahan Duwet berada di Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. Kantor kalurahan tercatat berada di Jalan Baron Kilometer 4. Data yang ditampilkan Pemerintah Kalurahan Duwet membagi wilayahnya menjadi enam padukuhan, yakni Dunggubah I, Dunggubah II, Duwet, Gondang, Jambe, dan Jogoloyo. Keenam padukuhan tersebut terdiri atas 51 RT dan 881 kepala keluarga, dengan total penduduk 3.076 jiwa dalam data yang ditampilkan pada profil wilayah kalurahan.
Duwet juga menjadi bagian dari wilayah administratif Kapanewon Wonosari yang secara keseluruhan terdiri atas 14 kalurahan. Batas-batas kalurahan di Kapanewon Wonosari kini juga telah memiliki dasar hukum melalui Peraturan Bupati Gunungkidul Nomor 53 Tahun 2025 tentang Batas Kalurahan di Kapanewon Wonosari.
Pertanian masih menjadi bagian penting kehidupan warga
Di antara kegiatan masyarakat yang terdokumentasi di Duwet adalah aktivitas kelompok tani. Salah satunya Kelompok Tani Sedyo Rukun di Padukuhan Gondang.
Pada 2023, kelompok tersebut melakukan kegiatan ubinan padi varietas Ciherang sebelum masa panen. Pemerintah Kalurahan Duwet mencatat kelompok itu memiliki 25 anggota dan memperoleh pendampingan dari Balai Penyuluhan Pertanian Kapanewon Wonosari. Sebelumnya, kelompok tersebut juga menerima bantuan benih padi sebanyak 125 kilogram untuk lahan seluas lima hektare.
Kegiatan pertanian di Duwet tidak berhenti pada produksi tanaman. Pada Januari 2025, Kelompok Tani Sedyo Rukun juga mengikuti pelatihan pembuatan POC dan Biosaka di Padukuhan Gondang. Kegiatan tersebut melibatkan penyuluh pertanian dan BPP Wonosari, dengan materi yang diarahkan pada pemanfaatan bahan hayati dan pengurangan ketergantungan terhadap pupuk kimia serta pestisida.
Data pendidikan penduduk dalam Kecamatan Wonosari Dalam Angka 2025 juga memberikan gambaran mengenai masyarakat Duwet. Berdasarkan data registrasi penduduk semester II 2024 dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Gunungkidul, tercatat antara lain 460 penduduk berpendidikan SLTA, 66 berpendidikan S1, serta lima berpendidikan S2-S3.
Dari produk warga sampai potensi UMKM
Potensi ekonomi warga Duwet juga muncul dalam kegiatan pengenalan potensi kalurahan. Dalam Gelar Potensi Rintisan Kalurahan Budaya 2024, Duwet menampilkan sejumlah produk UMKM.
Menurut laporan Pemerintah Kalurahan Duwet, produk yang dipamerkan antara lain peyek kacang, olahan rumput laut, tempe, jamu, tiwul, serta produk UMKM batu alam. Dalam kegiatan tersebut, potensi UMKM berjalan berdampingan dengan pertunjukan seni dan permainan anak.
Kehadiran berbagai produk tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi masyarakat Duwet tidak hanya berkaitan dengan sektor pertanian. Ada pula upaya memperkenalkan produk olahan dan usaha warga melalui ruang-ruang kegiatan kalurahan.
Ketika budaya menjadi bagian dari identitas Duwet
Salah satu cerita yang membuat Duwet memiliki warna tersendiri adalah kehidupan keseniannya.
Pemerintah Kalurahan Duwet mencatat bahwa pada 2023 wilayah ini ditetapkan sebagai Kantong Kalurahan Budaya. Pada 2024, Duwet kemudian mengikuti proses pengajuan Rintisan Kalurahan Budaya dan ikut dalam Gelar Potensi Rintisan Kalurahan Budaya bersama kalurahan lain di Kapanewon Wonosari.
Dalam kegiatan tersebut, anak-anak muda Duwet menampilkan tari topeng. Pemerintah kalurahan juga menyebut adanya tradisi adat yang diselenggarakan secara berkala di wilayah Duwet.
Kisah kebudayaan Duwet bahkan memiliki jejak yang lebih panjang. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul pada Juli 2025 memberitakan pagelaran Wayang Topeng Duwet di kompleks Sumur Soka, Padukuhan Jogoloyo. Dalam pemberitaan tersebut disebutkan bahwa kesenian Wayang Topeng Duwet telah ada selama lebih dari dua abad dan menjadi bagian dari sejarah budaya masyarakat setempat.
Pagelaran itu digelar oleh komunitas seni dan budaya Gundala Gunungkidul sekaligus menjadi bagian dari upaya mendokumentasikan dan mengenalkan kembali kesenian tersebut melalui film dokumenter.
Pemerintahan dan pelayanan terus bergerak
Di sisi pemerintahan, aktivitas Kalurahan Duwet dalam beberapa tahun terakhir juga cukup beragam. Arsip resmi kalurahan mencatat kegiatan musyawarah pembangunan, pelayanan administrasi kependudukan, kegiatan kesehatan bersama Puskesmas Wonosari I, pengelolaan anggaran, hingga kegiatan Badan Usaha Milik Kalurahan.
Pada 2026, misalnya, Pemerintah Kalurahan Duwet mempublikasikan laporan pertanggungjawaban APBKal 2025 dan APBKal 2026. Kalurahan juga mempublikasikan pemasangan informasi transparansi APBKal 2026 serta realisasi APBKal 2025.
Di bidang kebutuhan dasar masyarakat, pada Mei 2026 dilakukan uji pompa sumur bor baru di Padukuhan Dunggubah II bersama Balai Besar Wilayah Sungai. Sementara pada Juni 2026, pemerintah kalurahan menggelar musyawarah masyarakat bersama Puskesmas Wonosari I untuk mengenali persoalan kesehatan di masing-masing padukuhan.
Rangkaian kegiatan tersebut memberi gambaran bahwa Duwet bukan sekadar wilayah administratif. Di dalamnya terdapat proses sehari-hari yang mempertemukan kebutuhan warga, pelayanan pemerintah, kegiatan ekonomi, pertanian dan kebudayaan.
Pada akhirnya, cerita tentang Duwet tidak hanya berada pada angka 3.076 penduduk atau enam padukuhan yang tercatat dalam profil wilayah. Ada petani yang mengolah lahan, pelaku UMKM yang membuat produk, anak-anak muda yang belajar kesenian, serta masyarakat yang menjalani berbagai kegiatan bersama di tingkat padukuhan.
Di tengah perubahan zaman, kehidupan semacam itu menjadi bagian penting dari wajah Gunungkidul: sebuah kalurahan yang terus bergerak, sembari membawa sebagian warisan masa lalu ke kehidupan hari ini.
wartakawak.com