Gading, Kalurahan di Playen yang Menjaga Sejarah, Budaya, dan Potensi Warganya
Berada di Kapanewon Playen, Kalurahan Gading memiliki 10 padukuhan dengan lebih dari 6.600 penduduk. Di wilayah ini, cerita asal-usul yang diwariskan leluhur berjalan beriringan dengan tradisi rasulan, kesenian, UMKM, hingga pengembangan potensi wisata.
Gading, wilayah yang tumbuh dari cerita leluhur
Di jalur Jogja–Wonosari, Kalurahan Gading menjadi salah satu wilayah yang terus berkembang di Kapanewon Playen, Kabupaten Gunungkidul.
Di balik aktivitas masyarakat dan pembangunan yang berlangsung hari ini, Gading memiliki cerita asal-usul yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Pemerintah Kalurahan Gading mencatat kisah tersebut dalam sejarah resmi kalurahan, termasuk cerita mengenai sosok yang disebut sebagai Eyang Gading.
Saat ini Gading terdiri dari 10 padukuhan, yakni Gading I hingga Gading X. Data kependudukan yang ditampilkan Pemerintah Kalurahan Gading mencatat terdapat 2.126 kepala keluarga dengan 6.653 jiwa, terdiri atas 3.372 laki-laki dan 3.281 perempuan. Wilayah tersebut terbagi dalam 111 RT.
Dari hutan hingga menjadi permukiman
Dalam cerita asal-usul yang dipublikasikan Pemerintah Kalurahan Gading, wilayah ini pada sekitar tahun 1600 Masehi disebut masih berupa hutan lebat dan belum terdapat kehidupan masyarakat seperti sekarang.
Cerita tersebut mengisahkan perjalanan Nyai Gading dan Ki Gading bersama putranya, Ki Brungkat Jati, yang kemudian sampai di kawasan Gunungkidul untuk mencari tempat tinggal. Mereka menemukan kawasan yang dinilai luas dan subur sehingga dapat digunakan untuk bercocok tanam.
Dalam kisah yang diwariskan tersebut, pembukaan hutan kemudian melahirkan sebuah permukiman yang dinamai Gading, mengikuti nama tokoh yang dipercaya sebagai cikal bakalnya. Pemerintah Kalurahan juga mencatat bahwa cerita mengenai asal-usul ini bersumber dari kitab para leluhur yang dibuka dan dibaca setiap tahun ketika pelaksanaan bersih dusun atau rasulan.
Kisah tersebut merupakan bagian dari tradisi sejarah lokal yang hidup di tengah masyarakat. Pemerintah Kalurahan Gading bahkan pernah mengadakan pertemuan dengan tokoh masyarakat dan sesepuh untuk menghimpun informasi dalam rangka penyusunan sejarah desa.
Rasulan dan kehidupan budaya
Cerita masa lalu tidak hanya tersimpan dalam tulisan. Sebagian masih hidup melalui tradisi masyarakat.
Salah satunya adalah rasulan, tradisi yang dikenal luas di Gunungkidul sebagai ungkapan syukur masyarakat atas hasil pertanian dan kesejahteraan yang diterima.
Di Gading, persiapan kegiatan Rasul Gading I hingga IV juga tercatat dalam agenda pemerintah kalurahan. Tradisi tersebut menjadi salah satu bagian kehidupan sosial masyarakat sekaligus ruang untuk menjaga hubungan antarwarga.
Kegiatan budaya juga muncul dalam bentuk kesenian. Pada 2026, misalnya, Grup Jathil Mataram Kuno di Gading IV dikukuhkan sebagai bagian dari upaya pelestarian seni dan budaya. Di padukuhan lain, kegiatan pentas seni juga melibatkan pemuda dan masyarakat.
Bagi Gading, kebudayaan bukan hanya cerita tentang masa lalu. Ia juga menjadi bagian dari kehidupan sosial yang terus menyesuaikan diri dengan generasi baru.
Ada jejak benda bersejarah
Pada Maret 2026, perhatian terhadap sejarah Gading kembali muncul setelah adanya laporan mengenai arca kuno di sebuah rumah warga di Padukuhan Gading II.
Pemerintah Kalurahan Gading kemudian mendampingi Tim Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul untuk meninjau lokasi. Peninjauan dilakukan untuk mengidentifikasi kondisi arca, lokasi penempatan, serta menggali informasi mengenai asal-usul dan sejarah penemuannya.
Pemerintah kalurahan menyebut data tersebut akan digunakan sebagai bahan kajian lebih lanjut untuk menentukan langkah pelestarian yang tepat.
Keberadaan temuan tersebut menambah lapisan cerita tentang Gading. Selain sejarah yang diwariskan melalui tutur dan naskah leluhur, terdapat pula benda yang sedang dikaji untuk mengetahui nilai sejarah dan budayanya.
Potensi wisata dan ekonomi warga
Gading juga memiliki sejumlah potensi yang sedang dikembangkan melalui Desa Wisata Daniswara.
Pemerintah Kalurahan mencatat beberapa potensi yang dapat dikembangkan, antara lain Kalingga, Tahura, Watu Galeng, Resan, wisata kuliner tradisional, wisata budaya, Jaka Berek untuk wisata minat khusus agro, UMKM lokal, serta pondok wisata dan homestay.
Potensi tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan ekonomi Gading tidak hanya bertumpu pada satu sektor. Ada ruang bagi usaha masyarakat, kegiatan berbasis budaya, kuliner, hingga pengembangan wisata.
Upaya memperkenalkan potensi itu juga mulai diarahkan ke ruang digital. Pada 2025, Pemerintah Kalurahan Gading bersama Kelompok Informasi Masyarakat membahas digitalisasi potensi kalurahan. Salah satu tujuannya adalah mendokumentasikan potensi di setiap padukuhan agar lebih mudah dikenal dan diakses masyarakat.
Pembangunan berjalan bersama masyarakat
Di tingkat pemerintahan, Gading terus melakukan perencanaan pembangunan dengan melibatkan unsur masyarakat.
Pada 3 September 2026, Pemerintah Kalurahan Gading menggelar Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kalurahan (Musrenbangkal) untuk membahas penyusunan RKP Kalurahan Tahun 2027. Forum tersebut diikuti pemerintah kalurahan, Panewu Playen, LPMKal, tokoh masyarakat, lembaga kemasyarakatan dan unsur masyarakat.
Dalam forum itu, berbagai usulan dan kebutuhan masyarakat dibahas untuk kemudian menjadi bahan penyusunan prioritas pembangunan.
Sementara dalam kegiatan pemerintahan sehari-hari, Kalurahan Gading saat ini dipimpin oleh Lurah Rugiyanto. Hal tersebut juga tercatat dalam kegiatan monitoring penyelenggaraan pemerintahan kalurahan yang dilakukan Panewu Playen pada Juni 2026.
Gading hari ini
Gading terus bergerak di antara dua hal yang saling melengkapi: menjaga apa yang diwariskan dan membuka ruang bagi kehidupan yang baru.
Di satu sisi terdapat cerita Eyang Gading, tradisi rasulan, kesenian, naskah leluhur dan temuan arca yang masih membutuhkan kajian. Di sisi lain ada pembangunan infrastruktur, pemberdayaan masyarakat, UMKM, digitalisasi potensi serta perencanaan pembangunan yang terus berjalan.
Dengan 10 padukuhan dan ribuan warga, perjalanan Gading tentu bukan hanya tentang pemerintahan di sebuah wilayah. Ada keluarga yang menjalani kehidupan sehari-hari, kelompok masyarakat yang merawat tradisi, pemuda yang menghidupkan kesenian, serta warga yang mengembangkan usaha dan potensi di lingkungannya.
Di situlah cerita Gading menjadi lebih luas daripada sekadar nama sebuah kalurahan di Kapanewon Playen. Ia adalah ruang tempat sejarah, budaya, pembangunan dan kehidupan masyarakat berjalan bersama.
wartakawak.com