Mengenal Kalurahan Baleharjo: Jejak Besole dan Kehidupan Lima Padukuhan
Baleharjo tumbuh dari catatan sejarah lokal tentang Besole hingga menjadi kalurahan di kawasan Wonosari dengan lima padukuhan, tradisi yang tetap berjalan, dan kehidupan masyarakat yang terus berkemba
Mengenal Kalurahan Baleharjo: Dari Jejak Besole hingga Kehidupan Lima Padukuhan
Baleharjo bukan hanya bagian dari kawasan Wonosari. Di balik wilayah yang terus berkembang, terdapat jejak sejarah tentang Besole, perubahan pemerintahan, tradisi masyarakat, serta kehidupan warga di lima padukuhan yang membentuk Baleharjo hari ini.
Jejak Baleharjo dari Masa Lalu
Catatan sejarah yang dipublikasikan Pemerintah Kalurahan Baleharjo menyebut wilayah ini pada masa Mataram berkaitan dengan kekuasaan Demang Piyaman Wonopawiro. Dalam catatan tersebut, Baleharjo, Wonosari, Seneng, dan wilayah sekitarnya disebut memiliki keterkaitan geografis dengan pemerintahan Demang Piyaman yang berpusat di Pademangan Piyaman.
Sejarah lokal Baleharjo juga memuat kisah mengenai pembukaan kawasan Wonosari dan wilayah di sekitar pohon Besole. Dalam cerita yang disadur dari RPJMDes, Kyai Cetho dan Kyai Cokrodono disebut sebagai tokoh yang ikut dalam pembukaan kawasan tersebut, sementara Nyi Sariah disebut bertugas memenuhi kebutuhan warga yang terlibat dalam penebangan hutan.
Catatan Pemerintah Kalurahan Baleharjo menyebut wilayah tersebut dahulu dikenal sebagai Desa Besole. Perubahan nama dari Desa Besole menjadi Desa Baleharjo disebut terjadi setelah masa pemerintahan Lurah Kyai Karto Pawiro, pada masa setelah Indonesia merdeka.
Kisah mengenai masa awal tersebut merupakan bagian dari catatan sejarah lokal yang dipublikasikan Pemerintah Kalurahan Baleharjo. Karena sebagian informasi berasal dari cerita dan dokumen sejarah desa, kisah mengenai tokoh serta pembukaan wilayah perlu dipahami sesuai sumber yang mencatatnya.
Lima Padukuhan dalam Baleharjo
Kalurahan Baleharjo saat ini terdiri atas lima padukuhan, yakni Gedangsari, Mulyosari, Purwosari, Rejosari, dan Wukirsari. Data wilayah yang ditampilkan pada situs resmi kalurahan mencatat 41 RT dan 1.996 kepala keluarga.
Dalam data tersebut, Gedangsari tercatat memiliki enam RT dengan 1.002 jiwa. Mulyosari memiliki enam RT dengan 1.328 jiwa, Purwosari 12 RT dengan 1.297 jiwa, Rejosari sembilan RT dengan 1.191 jiwa, dan Wukirsari delapan RT dengan 1.676 jiwa.
Secara keseluruhan, situs resmi Kalurahan Baleharjo mencatat 6.494 jiwa, terdiri atas 3.242 laki-laki dan 3.252 perempuan. Angka tersebut merupakan data yang ditampilkan pada situs resmi kalurahan dan dapat berubah mengikuti perkembangan penduduk.
Lima padukuhan tersebut menjadi ruang kehidupan masyarakat Baleharjo. Di dalamnya berlangsung kegiatan sosial, pemerintahan tingkat padukuhan, pelayanan masyarakat, serta berbagai aktivitas warga yang membentuk kehidupan sehari-hari.
Tradisi yang Tetap Berjalan
Kehidupan Baleharjo tidak hanya tercatat melalui perubahan administratif. Tradisi masyarakat juga masih muncul dalam berbagai kegiatan kalurahan.
Pada 4 Maret 2024, Pemerintah Kalurahan Baleharjo mendokumentasikan kegiatan kenduri kirim donga sebagai bagian dari rangkaian tradisi Rasul atau bersih desa. Dalam dokumentasi tersebut, kegiatan Rasul 2024 disebut akan dilaksanakan pada 13 Mei 2024 dengan Padukuhan Purwosari sebagai panitia.
Tradisi tersebut menjadi salah satu catatan mengenai kegiatan sosial dan kebudayaan masyarakat Baleharjo. Di tengah perubahan wilayah dan kehidupan masyarakat, kegiatan tradisi masih tercatat dalam agenda kalurahan.
Perkembangan Baleharjo juga terlihat dari tata kelola pemerintahan dan pelayanan masyarakat. Situs resmi kalurahan memuat berbagai informasi mengenai peraturan, anggaran, kegiatan pembangunan, pelayanan, serta kegiatan masyarakat.
Pada 2024, Pemerintah Kalurahan Baleharjo menyatakan laporan realisasi anggaran 2023 dan anggaran 2024 dipasang di papan informasi tingkat kalurahan dan balai padukuhan. Pemasangan tersebut disebut sebagai bagian dari transparansi dan kontrol masyarakat.
Arsip resmi kalurahan juga memuat berbagai kegiatan dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari pelatihan ecoprint, kegiatan lembaga kemasyarakatan, layanan pajak, kegiatan kesehatan, hingga informasi pemerintahan dan pelayanan publik.
Perjalanan Baleharjo dengan demikian tidak berhenti pada perubahan nama dari Besole. Wilayah ini terus bergerak melalui perkembangan pemerintahan, perubahan kebutuhan masyarakat, kegiatan sosial, serta tradisi yang masih dijalankan.
Dari catatan tentang Besole dan pembukaan kawasan, perubahan pemerintahan setelah kemerdekaan, hingga kehidupan lima padukuhan saat ini, setiap periode menjadi bagian dari perjalanan Baleharjo.
Pada akhirnya, Baleharjo bukan hanya nama dalam administrasi pemerintahan. Gedangsari, Mulyosari, Purwosari, Rejosari, dan Wukirsari menjadi ruang tempat masyarakat menjalani kehidupan, merawat tradisi, dan terus membangun masa depan kalurahannya.
wartakawak.com