Mengenal Kalurahan Karangtengah: Jejak Sejarah, Pande Besi, dan Tradisi yang Terus Hidup
Karangtengah di Kapanewon Wonosari memiliki 10 padukuhan, lebih dari 9.000 penduduk, serta kekayaan budaya yang hidup melalui tradisi Rasul, kerajinan pande besi, cerita rakyat, dan berbagai warisan
Di utara Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, terdapat Kalurahan Karangtengah yang berkembang di antara kawasan permukiman, pertanian, kegiatan ekonomi, serta tradisi masyarakat. Wilayah ini terdiri atas 10 padukuhan dengan kehidupan warga yang tetap mempertahankan berbagai kegiatan sosial dan budaya di tengah perkembangan kawasan perkotaan Wonosari.
Data yang ditampilkan Pemerintah Kalurahan Karangtengah mencatat 9.139 jiwa dalam 2.726 kepala keluarga dan 58 RT. Penduduk tersebut terdiri atas 4.667 laki-laki dan 4.472 perempuan. Sepuluh padukuhan itu adalah Duwetrejo, Kajar I, Kajar II, Kajar III, Karangtengah I, Karangtengah II, Karangtengah III, Kedung I, Kedung II, dan Sidorejo.
Nama Karangtengah dan Jejak Awalnya
Catatan sejarah yang dimuat Pemerintah Kalurahan Karangtengah menyebut asal-usul wilayah ini berkaitan dengan cerita para sesepuh mengenai Eyang Keti Suto dan Eyang Suto Kerti. Dalam cerita tersebut, Eyang Keti Suto memilih tempat yang dirasakan cocok untuk ditinggali karena berada di tengah-tengah wilayah desa. Dari kisah itulah nama Karangtengah kemudian dikenal.
Catatan lama Pemerintah Kalurahan Karangtengah juga memperkirakan berdirinya desa sekitar 1848. Perkiraan tersebut disusun berdasarkan riwayat masa jabatan sejumlah lurah terdahulu, dengan Sodrono disebut sebagai lurah pertama dan Mangun Harjo atau Salikin sebagai lurah keempat yang menjabat pada 1937–1975.
Namun, terdapat catatan lain dalam materi adat dan tradisi yang diterbitkan kalurahan pada 2025. Berdasarkan musyawarah adat dan penelusuran sejarah yang disebut dalam materi tersebut, hari kelahiran desa disepakati pada Senin Pahing, 9 Oktober 1916. Karena kedua sumber resmi kalurahan tersebut menggunakan dasar penjelasan yang berbeda, tahun 1848 dan 1916 sebaiknya dipahami sebagai dua catatan sejarah lokal yang belum diselaraskan, bukan dipaksakan menjadi satu kepastian sejarah.
Secara administratif, Karangtengah tercatat memiliki luas sekitar 504,61 hektare. Wilayahnya berbatasan dengan Kalurahan Kedungkeris di Kapanewon Nglipar dan Kalurahan Piyaman di sebelah utara, Kalurahan Gari dan Piyaman di sebelah barat, Piyaman di sebelah selatan, serta Kalurahan Bejiharjo di Kapanewon Karangmojo di sebelah timur.
Sepuluh Padukuhan dan Kehidupan Warga
Karangtengah memiliki karakter sosial yang cukup beragam. Di satu sisi, wilayah ini berada dalam kawasan yang dekat dengan pusat pemerintahan Kabupaten Gunungkidul. Di sisi lain, kehidupan masyarakat di padukuhan masih ditandai oleh kegiatan gotong royong, tradisi, komunitas, serta aktivitas ekonomi yang berkembang dari lingkungan warga.
Pemerintah Kalurahan Karangtengah mencatat kegiatan ekonomi masyarakat mencakup industri, perdagangan, jasa, dan pertanian. UMKM, industri olahan makanan, kerajinan, serta kuliner juga menjadi bagian dari potensi ekonomi wilayah.
Pembagian wilayah ekonomi juga memiliki kekhasan. Padukuhan Kajar I, Kajar II, Kajar III, Kedung I, dan Kedung II dikenal sebagai wilayah yang memiliki kegiatan pande besi. Sementara Karangtengah I, Karangtengah II, Karangtengah III, Sidorejo, dan Duwetrejo lebih banyak memiliki UMKM, kuliner, serta kegiatan pertanian.
Bara Pande Besi di Kajar dan Kedung
Salah satu identitas yang paling kuat dari Karangtengah adalah kerajinan pande besi. Pemerintah Kalurahan Karangtengah mencatat kegiatan ini berkembang terutama di Kajar dan Kedung.
Di tempat tersebut, proses menempa besi masih menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat. Bunyi palu yang menghantam besi panas, proses pembentukan logam, hingga pembuatan peralatan pertanian menjadi bagian dari kehidupan para perajin. Pemerintah kalurahan menyebut pande besi sebagai warisan kemahiran kerajinan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.
Kerajinan tersebut juga menghadapi perubahan zaman. Dalam materi profil budaya Karangtengah, pemerintah kalurahan mencatat sejumlah tantangan, antara lain kenaikan harga bahan baku, persaingan dengan produk alat pertanian yang lebih murah, serta perubahan teknologi pertanian. Di sisi lain, produk buatan tangan tetap memiliki kemampuan untuk disesuaikan dengan kebutuhan pengguna.
Bagi masyarakat Kajar dan Kedung, pande besi karena itu bukan hanya kegiatan mencari penghasilan. Ia menjadi bagian dari identitas wilayah sekaligus pengetahuan keterampilan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Rasul dan Tradisi yang Tetap Berjalan
Kehidupan budaya Karangtengah juga terlihat dari tradisi Rasul atau Rasulan. Pada 2026, Pemerintah Kalurahan Karangtengah mendokumentasikan rangkaian Sedekah Bumi yang dilaksanakan di 10 padukuhan.
Kegiatan tersebut berlangsung mengikuti waktu dan pasaran Jawa yang berbeda di masing-masing padukuhan. Tradisi tahunan itu menjadi ruang pertemuan warga sekaligus bagian dari cara masyarakat menjaga adat yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Materi adat dan tradisi Kalurahan Karangtengah juga mencatat sejumlah ritual daur hidup masyarakat, seperti Mitoni, Mantenan, Ruwatan, hingga Pangrupti Loyo. Tradisi tersebut ditempatkan dalam kerangka nilai budaya Jawa dan kehidupan sosial masyarakat.
Di dalam pelaksanaan tradisi, kenduri dan gotong royong menjadi bagian yang mempertemukan warga. Karena itu, tradisi tidak hanya berbicara tentang upacara, tetapi juga tentang hubungan sosial yang terus dirawat di lingkungan padukuhan.
Warisan Alam dan Cerita Rakyat
Selain pande besi dan tradisi, Karangtengah juga menyimpan berbagai cerita mengenai ruang, alam, serta situs yang berkembang dalam ingatan masyarakat.
Materi kebudayaan yang diterbitkan Pemerintah Kalurahan Karangtengah pada 2026 menggambarkan wilayah tersebut sebagai kawasan yang memiliki bentang alam karst, sumber mata air, gua, batuan, serta petilasan yang berkaitan dengan cerita tutur dan penamaan tempat. Materi itu menempatkan berbagai unsur tersebut sebagai bagian dari warisan budaya dan memori kolektif masyarakat.
Cerita mengenai Eyang Keti Suto dan Eyang Suto Kerti juga masih menjadi bagian dari cerita rakyat Karangtengah. Dalam materi kebudayaan kalurahan, kisah tersebut dikaitkan dengan proses pembukaan wilayah dan asal-usul nama Karangtengah serta tradisi pande besi di Kajar. Karena berbentuk cerita rakyat yang diwariskan secara lisan, kisah tersebut perlu ditempatkan sebagai folklore atau sejarah tutur, bukan sebagai fakta sejarah yang telah diverifikasi secara independen.
Menjaga Budaya di Tengah Perubahan
Upaya menjaga kebudayaan Karangtengah masih berlangsung. Pada 28 Juni 2026, Tim Akreditasi Rintisan Kalurahan Budaya dari Kundha Kabudayan Kabupaten Gunungkidul melakukan kunjungan lapangan ke Karangtengah dalam rangka verifikasi dan peninjauan program Rintisan Kalurahan Budaya 2026. Kegiatan tersebut melibatkan pemerintah kalurahan, lembaga masyarakat, pelaku seni, pelestari adat, serta warga.
Dalam perkembangan berikutnya, Pemerintah Kalurahan Karangtengah pada Agustus 2026 menyebut telah mencapai tahap Kalurahan Rintisan Budaya Berkembang dan mulai membahas langkah untuk mempertahankan serta meningkatkan capaian tersebut menuju Kalurahan Mandiri Budaya. Pernyataan tersebut merupakan informasi dari Pemerintah Kalurahan Karangtengah dan menggambarkan posisi program kebudayaan menurut pemerintah kalurahan pada saat itu.
Di tengah aktivitas tersebut, kehidupan Karangtengah terus berjalan melalui hal-hal yang dekat dengan keseharian warga. Ada perajin yang bekerja dengan bara api dan besi, petani yang mengolah lahan, pelaku UMKM dan kuliner, warga yang menyiapkan tradisi padukuhan, hingga generasi muda yang tumbuh dalam lingkungan dengan warisan budaya yang beragam.
Karangtengah dengan demikian bukan hanya sebuah wilayah administratif di Kapanewon Wonosari. Ia merupakan ruang hidup tempat sejarah tutur, tradisi, kerajinan, pertanian, usaha warga, dan kehidupan sosial bertemu. Dari suara palu pande besi di Kajar dan Kedung hingga tradisi Rasul di 10 padukuhan, wajah Karangtengah dibentuk oleh masyarakat yang terus menjalani kehidupan sekaligus merawat apa yang mereka terima dari generasi sebelumnya.
wartakawak.com