Mengenal Kalurahan Piyaman: Jejak Demang Wonopawiro dan Kehidupan 11 Padukuhan
Piyaman di Kapanewon Wonosari menyimpan jejak sejarah Demang Wonopawiro, cagar budaya, tradisi masyarakat, serta kehidupan ekonomi yang salah satunya dikenal melalui kuliner Bakmi Jawa.
Kalurahan Piyaman berada di Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. Di wilayah yang berada tidak jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Gunungkidul ini, kehidupan masyarakat terbagi dalam 11 padukuhan dengan jumlah penduduk yang tercatat pada laman resmi kalurahan sebanyak 8.872 jiwa.
Data pada laman wilayah Kalurahan Piyaman mencatat 11 padukuhan, 76 RT, 2.561 kepala keluarga, serta 8.872 jiwa. Jumlah tersebut terdiri atas 4.408 laki-laki dan 4.464 perempuan. Padukuhan dengan jumlah penduduk terbanyak dalam data tersebut adalah Kemorosari II dengan 1.685 jiwa, disusul Budegan II dengan 1.331 jiwa dan Pakelrejo dengan 1.170 jiwa.
Sebelas Padukuhan
Sebelas padukuhan di Kalurahan Piyaman terdiri atas Budegan I, Budegan II, Kemorosari I, Kemorosari II, Ngemplek, Ngerboh I, Ngerboh II, Pakeljaluk, Pakelrejo, Piyaman I, dan Piyaman II. Pembagian wilayah tersebut tercatat dalam data kependudukan resmi Pemerintah Kalurahan Piyaman.
Nama Piyaman juga menjadi bagian penting dari identitas wilayah. Alamat kantor kalurahan tercatat di Jalan Ki Demang Wonopawiro, Ngerboh, Piyaman. Nama tersebut sekaligus mengingatkan pada sosok Demang Wonopawiro yang jejak sejarahnya masih dapat ditemui di sejumlah tempat di wilayah Piyaman.
Dalam kegiatan pembelajaran di Kalurahan Piyaman pada 2024, pemerintah kalurahan memperkenalkan kepada siswa sejarah Piyaman, tempat-tempat bersejarah, cagar budaya, riwayat kuliner Bakmi Jawa Piyaman, serta sejumlah fasilitas pendidikan dan instansi yang berada di wilayah kalurahan.
Jejak Demang Wonopawiro
Salah satu bagian yang kuat dalam identitas sejarah Piyaman adalah keberadaan peninggalan yang berkaitan dengan Demang Wonopawiro. Pemerintah Kalurahan Piyaman mencatat adanya Rumah Tradisional Paerah Martodiharjo yang disebut sebagai rumah peninggalan Demang Wonopawiro.
Selain itu terdapat Rumah Tradisional Dwijo Marwoto yang dikenal sebagai Joglo Citakan. Keduanya disebut telah mendapatkan penetapan sebagai cagar budaya oleh Bupati Gunungkidul.
Jejak tersebut tidak hanya berada dalam bangunan. Makam Demang Wonopawiro juga menjadi salah satu lokasi yang masih dikenal dan dikunjungi. Pemerintah Kalurahan Piyaman mencatat kegiatan ziarah ke makam tersebut dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul pada 2018.
Di sekitar kawasan tersebut juga terdapat Pasar Pahing. Dalam catatan Pemerintah Kalurahan Piyaman, pasar tersebut disebut sebagai peninggalan bersejarah yang berkaitan dengan masa Demang Wonopawiro dan telah berusia lebih dari 200 tahun pada saat tulisan tersebut diterbitkan pada 2019. Pasar itu disebut masih digunakan sebagai sarana perdagangan masyarakat sekitar.
Catatan mengenai usia dan sejarah pasar tersebut merupakan keterangan yang dimuat Pemerintah Kalurahan Piyaman pada 2019. Karena itu, informasi tersebut ditempatkan sebagai bagian dari catatan sejarah lokal, bukan sebagai hasil verifikasi historis independen oleh Warta Kawak.
Situs Dluwak dan Cagar Budaya
Piyaman juga memiliki Situs Dluwak di Padukuhan Piyaman II. Pemerintah Kalurahan Piyaman menyebut situs tersebut memiliki Yoni yang telah ditetapkan Bupati Gunungkidul sebagai cagar budaya dengan nama Yoni D 103.1.
Situs Dluwak berada di sebelah utara Makam Demang Wonopawiro dengan jarak sekitar 400 meter, menurut keterangan Pemerintah Kalurahan Piyaman. Situs tersebut sebelumnya telah dilaporkan kepada Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan menjalani survei lapangan pada 23 November 2022.
Pemerintah Kalurahan Piyaman juga mencatat bahwa dalam sarasehan cagar budaya pada Desember 2024, Yoni Dluwak Piyaman memperoleh juara kedua dalam lomba kebersihan cagar budaya dan situs tingkat Kabupaten Gunungkidul.
Di luar penjelasan mengenai keberadaan situs, terdapat pula cerita masyarakat mengenai batuan dan suara gamelan yang dikaitkan dengan Situs Dluwak. Cerita tersebut merupakan keterangan masyarakat yang dimuat dalam laman resmi kalurahan sehingga perlu dipahami sebagai cerita atau kepercayaan lokal, bukan fakta sejarah yang telah dipastikan.
Bakmi Jawa dan Ekonomi Warga
Piyaman juga memiliki identitas kuliner yang cukup kuat melalui Bakmi Jawa. Salah satu kelompok usaha yang tercatat di laman resmi kalurahan adalah Paguyuban Bakmi Jawa “Ngudi Rejeki” di Padukuhan Pakeljaluk.
Pada 2023, paguyuban tersebut memperingati ulang tahun ke-20. Dalam keterangan yang disampaikan ketuanya, Bakmi Jawa Piyaman disebut menjadi sumber penghasilan utama bagi masyarakat Padukuhan Pakeljaluk pada khususnya dan masyarakat Piyaman pada umumnya. Pernyataan tersebut merupakan keterangan dari pihak paguyuban yang dimuat Pemerintah Kalurahan Piyaman.
Potensi ekonomi Piyaman juga tidak hanya berasal dari kuliner. Dalam kegiatan identifikasi potensi dan masalah kalurahan pada Mei 2025, pemerintah kalurahan melibatkan sejumlah kelompok masyarakat, antara lain Paguyuban Bakmi Jawa Piyaman, Karang Taruna, Desa Prima, penggiat Batik Demang Wonopawiro, kelompok pahat wayang, kerajinan anyaman bambu, Desa Wisata, Gapoktan, Pokdarwis, PKK, dan kader kesehatan.
Rangkaian tersebut menunjukkan beragam bidang yang menjadi bagian dari aktivitas masyarakat Piyaman, mulai dari kuliner dan kerajinan hingga pertanian, pariwisata, kebudayaan, dan pemberdayaan masyarakat.
Tradisi dan Kehidupan Budaya
Kehidupan budaya Piyaman juga tumbuh melalui tradisi yang dijalankan di tingkat padukuhan. Salah satunya adalah Bersih Dusun Tri Padukuhan yang melibatkan Piyaman I, Piyaman II, dan Pakeljaluk.
Dalam catatan kegiatan tahun 2018, rangkaian tradisi tersebut meliputi kerja bakti, kegiatan olahraga, pentas seni karang taruna, kenduri, kirab budaya dengan hasil bumi, uyon-uyon, reog, serta pementasan wayang kulit. Pemerintah Kalurahan Piyaman menyebut pelaksanaannya berkaitan dengan adat dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Piyaman juga pernah mengikuti Gelar Potensi Kalurahan Rintisan Budaya Kabupaten Gunungkidul. Pada 2022, pemerintah kalurahan menyebut potensi yang disiapkan mencakup seni dan tradisi, kesenian serta permainan tradisional, bahasa dan sastra serta aksara Jawa, kerajinan, kuliner dan pengobatan tradisional, hingga tata ruang dan arsitektur tradisional.
Dengan demikian, budaya di Piyaman tidak hanya hadir melalui peninggalan masa lalu. Tradisi warga, kegiatan seni, kerajinan, kuliner, serta upaya mengenalkan sejarah kepada generasi muda menjadi bagian dari cara masyarakat menjaga identitas wilayah.
Menjaga Jejak, Menjalani Perubahan
Piyaman hari ini berada di antara dua kebutuhan yang berjalan bersamaan: menjaga jejak sejarah dan mengembangkan kehidupan masyarakat. Cagar budaya, makam Demang Wonopawiro, Pasar Pahing, serta Situs Dluwak menjadi bagian dari warisan yang masih dapat ditemui, sementara kegiatan ekonomi, pendidikan, pemberdayaan, dan pelayanan masyarakat terus berjalan.
Di tengah perkembangan tersebut, Piyaman tetap memiliki cerita yang berangkat dari lingkungan padukuhan. Sebelas padukuhan, ribuan keluarga, kuliner Bakmi Jawa, kegiatan budaya, dan peninggalan sejarah membentuk wajah Piyaman sebagai salah satu wilayah penting di Kapanewon Wonosari.
Sejarah sebuah kalurahan pada akhirnya bukan hanya tentang nama tokoh atau bangunan lama. Ia juga tentang bagaimana masyarakat hari ini merawat apa yang diwariskan, menghidupkan kembali tradisi, dan membangun kehidupan baru tanpa sepenuhnya kehilangan jejak masa lalu.
wartakawak.com