Mengenal Kalurahan Selang: Sembilan Padukuhan, Tradisi yang Terus Tumbuh
Kalurahan Selang di Kapanewon Wonosari memiliki sembilan padukuhan dan lebih dari 5.000 penduduk, dengan kehidupan masyarakat yang berjalan berdampingan dengan tradisi, kegiatan budaya, serta perkemba
Kalurahan Selang berada di Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. Letaknya tidak jauh dari kawasan perkotaan Wonosari, dengan kehidupan masyarakat yang terbagi dalam sembilan padukuhan dan aktivitas warga yang bergerak di berbagai bidang.
Berdasarkan data yang ditampilkan pada laman resmi Kalurahan Selang, wilayah ini terdiri atas Padukuhan Mokol, Randukuning I, Randukuning II, Randukuning III, Selang I, Selang II, Selang III, Selang IV, dan Selang V. Data tersebut mencatat 67 RT, 1.633 kepala keluarga, serta 5.351 jiwa, terdiri dari 2.654 laki-laki dan 2.697 perempuan.
Sembilan Padukuhan dalam Satu Kalurahan
Sembilan padukuhan tersebut memiliki jumlah penduduk yang berbeda. Mokol menjadi salah satu wilayah dengan jumlah penduduk cukup besar, sementara lima padukuhan yang menggunakan nama Selang berada dalam satu rangkaian wilayah, yakni Selang I hingga Selang V. Randukuning juga terbagi menjadi tiga padukuhan, yaitu Randukuning I, II, dan III.
Pembagian tersebut memperlihatkan bahwa Selang bukan hanya sebuah nama wilayah, tetapi ruang hidup yang terdiri atas lingkungan-lingkungan masyarakat dengan karakter dan kegiatan masing-masing. Kehidupan warga kemudian bertemu dalam berbagai kegiatan di tingkat kalurahan maupun padukuhan.
Secara luas wilayah, Selang tercatat sebagai kalurahan dengan wilayah paling kecil di Kapanewon Wonosari. Data Badan Pusat Statistik untuk 2023 mencatat luas Selang sebesar 3,32 kilometer persegi atau sekitar 4,40 persen dari luas Kapanewon Wonosari.
Tradisi yang Tetap Dijalankan
Salah satu bagian yang menonjol dari kehidupan masyarakat Selang adalah keberadaan tradisi Merti Dusun atau Rasulan. Tradisi tersebut masih dilaksanakan oleh warga di sejumlah padukuhan sebagai bagian dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat.
Pada Juni 2026, misalnya, Padukuhan Selang I sampai Selang V menyelenggarakan Merti Dusun secara bersama. Rangkaian kegiatan berlangsung sejak 3 hingga 7 Juni, dengan doa bersama lintas agama, campursari, olahraga sepak bola, kenduri, pawai gunungan hasil bumi, serta pagelaran wayang kulit.
Kegiatan serupa juga berlangsung di Randukuning I, II, dan III. Dalam kegiatan Merti Dusun pada 2024, warga menggelar jathilan, kenduri, serta wayang kulit. Pemerintah Kalurahan Selang pada saat itu menyebut kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya warga menjaga tradisi Merti Dusun.
Tradisi tersebut tidak hanya hadir sebagai rangkaian acara tahunan. Di dalamnya terdapat pertemuan warga, kerja bersama, pertunjukan seni, serta ruang bagi masyarakat untuk menjaga hubungan sosial di lingkungan masing-masing.
Dari Seni hingga Kegiatan Warga
Kehidupan budaya Selang juga terlihat dari kegiatan seni yang melibatkan berbagai kelompok usia. Pada Oktober 2024, Pemerintah Kalurahan Selang mencatat adanya pentas seni yang melibatkan anak-anak dan remaja dari sembilan padukuhan. Kegiatan tersebut menampilkan tari dan karawitan, kemudian ditutup dengan pementasan karawitan Pulangeni atau Pemuda Selang Ngegulang Seni.
Selang juga tercatat sebagai Kalurahan Rintisan Budaya. Pada 2024, Kalurahan Selang mengikuti Gelar Potensi Kalurahan Rintisan Budaya yang diselenggarakan Kundha Kabudayan Kabupaten Gunungkidul bersama sejumlah kalurahan rintisan budaya lainnya di Kapanewon Wonosari. Pada saat itu, laman resmi kalurahan masih menyebut Selang berstatus Rintisan Budaya.
Di bidang ekonomi, aktivitas warga tidak hanya berkaitan dengan pertanian. Data profil potensi lama Kalurahan Selang mencatat mata pencaharian seperti petani, buruh tani, buruh atau pekerja swasta, pegawai negeri, pedagang, montir, dan pengrajin. Karena data tersebut berasal dari 2014, angka-angkanya tidak digunakan untuk menggambarkan kondisi ekonomi Selang saat ini.
Perkembangan kegiatan ekonomi masyarakat juga terlihat dari adanya pelatihan UMKM dan digital marketing yang diselenggarakan bersama Pemerintah Kalurahan Selang dan perangkat daerah pada 2025. Kegiatan tersebut menunjukkan adanya perhatian terhadap penguatan kapasitas pelaku usaha di tingkat kalurahan.
Kehidupan yang Terus Bergerak
Selain budaya dan ekonomi, berbagai kegiatan pelayanan masyarakat menjadi bagian dari kehidupan Selang. Pada Desember 2024, misalnya, Pemerintah Kalurahan Selang menggelar Musyawarah Masyarakat Desa yang membahas persoalan kesehatan berdasarkan hasil pengumpulan informasi dari warga. Tiga isu yang dibahas adalah penanggulangan demam berdarah dengue, penanganan stunting, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.
Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan Selang sebagai wilayah yang kehidupan masyarakatnya tidak berhenti pada urusan pemerintahan. Di tingkat padukuhan, warga masih menjalankan tradisi; di ruang kalurahan, kegiatan seni dan pemberdayaan terus berlangsung; sementara persoalan kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan pelayanan masyarakat menjadi bagian dari kebutuhan sehari-hari.
Sejarah berdirinya Kalurahan Selang sendiri tersedia dalam arsip resmi kalurahan melalui materi berjudul “Adeging Kalurahan Selang”. Namun, laman resmi tersebut mengarahkan pembaca ke dokumen Google Drive sehingga uraian sejarah rinci tidak dapat digunakan dalam tulisan ini tanpa pemeriksaan terhadap dokumen aslinya.
Pada akhirnya, Selang dapat dilihat bukan semata sebagai sebuah wilayah administratif di sisi kawasan Wonosari. Di antara sembilan padukuhannya, terdapat masyarakat yang terus menjaga tradisi sekaligus menjalani perubahan kehidupan sehari-hari. Dari Merti Dusun, kesenian, kegiatan ekonomi, hingga pelayanan warga, wajah Selang terbentuk dari banyak aktivitas kecil yang berlangsung bersama.
wartakawak.com