Mengenal Kalurahan Wonosari: Jejak Sejarah di Tengah Pusat Gunungkidul
Wonosari bukan hanya tempat pusat pemerintahan berdiri. Di tujuh padukuhannya, sejarah, tradisi, dan kehidupan warga terus berjalan—menyambungkan cerita masa lalu dengan wajah Gunungkidul hari ini.
Wonosari, dari Jejak Sejarah hingga Kehidupan di Tujuh Padukuhan
Wonosari bukan hanya kawasan pusat pemerintahan Kabupaten Gunungkidul. Di dalam tujuh padukuhannya, sejarah, tradisi, kegiatan ekonomi, dan kehidupan masyarakat terus berjalan, sementara sebagian cerita masa lalunya masih terbuka untuk dilengkapi.
Jejak Wonosari Sejak 1912
Catatan sejarah yang dipublikasikan Pemerintah Kalurahan Wonosari menyebut Desa Wonosari dibentuk sekitar 1912. Dalam catatan tersebut, Mbah Karto Sentono disebut sebagai lurah pertama, Mbah Harso Diyono sebagai carik, dan Mbah Kariyo sebagai bayan.
Pada masa awal, kegiatan pemerintahan belum berlangsung di sebuah balai desa. Pemerintahan disebut dilaksanakan dari rumah lurah, sedangkan pertemuan masyarakat dilakukan melalui kegiatan pisowanan.
Catatan yang sama menyebut Wonosari pada masa awal terdiri atas lima padusunan, yakni Bajangan, Gadungmlaten, Branang, Awar-awar, dan Jeruk. Kulonpasar dan Kakiman saat itu disebut sebagai padusunan pembantu.
Setelah perubahan pemerintahan dan perkembangan wilayah, lima padusunan tersebut kemudian berkembang menjadi tujuh padukuhan. Pada 1971, sejumlah nama wilayah mengalami perubahan, hingga menjadi nama padukuhan yang dikenal sekarang.
Tujuh padukuhan tersebut adalah Madusari, Ringinsari, Purbosari, Gadungsari, Pandansari, Tawarsari, dan Jeruksari. Perubahan nama itu menjadi salah satu bagian dari perjalanan administratif Wonosari.
Pemerintah Kalurahan Wonosari juga mencatat bahwa sejarah tersebut masih jauh dari sempurna karena keterbatasan narasumber. Artinya, kisah tentang masa awal Wonosari masih terbuka untuk dilengkapi melalui sumber sejarah maupun penuturan masyarakat yang dapat dipertanggungjawabkan.
Wilayah dan Kehidupan yang Bergerak
Kalurahan Wonosari berada di kawasan pusat Kabupaten Gunungkidul dan terdiri atas tujuh padukuhan. Dokumen Rencana Kerja Pemerintah Kalurahan Wonosari Tahun 2022 mencatat luas wilayah sekitar 302,8913 hektare, dengan 72 RT dan 20 RW berdasarkan data Sistem Informasi Administrasi Kependudukan pada Juli 2021.
Dalam dokumen tersebut, Tawarsari tercatat sebagai padukuhan dengan wilayah terluas, sekitar 129,54 hektare. Jeruksari memiliki luas sekitar 86,15 hektare, sementara lima padukuhan lainnya memiliki wilayah dengan luasan lebih kecil.
Secara administratif dan geografis, Wonosari berbatasan dengan Piyaman dan Bejiharjo di sebelah utara, Kepek di sebelah barat, Baleharjo di sebelah selatan, serta Selang di sebelah timur.
Posisi tersebut membuat Wonosari berada di tengah berbagai aktivitas kawasan pusat kabupaten. Namun, di dalamnya kehidupan masyarakat tetap berlangsung melalui ruang sosial tujuh padukuhan.
Aktivitas ekonomi menjadi salah satu bagian dari kehidupan tersebut. Dokumen Rencana Kerja Pemerintah Kalurahan menyebut perekonomian Wonosari banyak ditopang oleh industri kecil, perdagangan, dan jasa.
Catatan pemerintah kalurahan juga menunjukkan adanya pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui Kelompok Usaha Bersama atau KUBE. Pada 2016 tercatat 10 kelompok dengan total 100 peserta yang tersebar di tujuh padukuhan.
Data KUBE tersebut merupakan catatan pada periode tertentu dan tidak dapat langsung dianggap menggambarkan kondisi ekonomi Wonosari saat ini. Namun, catatan itu menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi masyarakat telah menjadi bagian dari perhatian pembangunan di tingkat kalurahan.
Jamu dan Tradisi yang Bertahan
Perubahan Wonosari sebagai kawasan yang berada di pusat kabupaten berjalan berdampingan dengan pengetahuan dan tradisi masyarakat. Salah satunya adalah jamu tradisional yang dicatat Pemerintah Kalurahan Wonosari sebagai salah satu potensi budaya.
Produsen jamu tradisional disebut terdapat di Padukuhan Gadungsari, Jeruksari, dan Tawarsari. Salah satu yang disebut adalah Jamu Bregass di Gadungsari, dengan pemilik bernama Sutarini yang menurut publikasi pemerintah kalurahan pernah memperoleh penghargaan sebagai pelestari warisan budaya dari Kundha Kabudayan Gunungkidul pada 2021.
Selain jamu, tradisi bersih desa atau Rasul juga tercatat dalam dokumentasi kegiatan masyarakat Wonosari. Situs resmi Kalurahan Wonosari memuat dokumentasi Bersih Desa atau Rasul Desa, termasuk kegiatan pada 2016 dan 2018.
Dalam catatan sejarah kalurahan, tradisi Rasul juga disebut telah berlangsung sejak masa awal pembukaan wilayah Wonosari. Tradisi tersebut menjadi salah satu bagian dari hubungan masyarakat dengan sejarah dan kebudayaan lokal.
Lebih dari satu abad setelah periode awal pembentukannya, Wonosari telah mengalami banyak perubahan. Pemerintahan yang dahulu dilaksanakan dari rumah lurah kemudian berkembang, padusunan berubah menjadi padukuhan, sementara aktivitas ekonomi masyarakat turut bergerak mengikuti perkembangan kawasan pusat pemerintahan dan pelayanan.
Namun, perubahan tersebut tidak serta-merta menghapus jejak masa lalu. Nama-nama padukuhan masih menyimpan hubungan dengan nama wilayah sebelumnya, tradisi masyarakat tetap memiliki ruang, dan pengetahuan lokal seperti jamu tradisional masih menjadi bagian dari cerita Wonosari.
Pada akhirnya, sejarah Wonosari bukan hanya tentang perubahan nama wilayah atau perkembangan pemerintahan. Di dalamnya terdapat masyarakat yang bekerja, membangun kehidupan, merawat tradisi, menjalankan usaha, dan terus beradaptasi dengan perubahan zaman.
Catatan sejarah resmi Kalurahan Wonosari sendiri mengakui bahwa kisah tersebut masih belum sempurna karena keterbatasan narasumber. Masih terbuka kemungkinan adanya cerita keluarga, ingatan para sesepuh, foto lama, dokumen, maupun kisah perubahan kampung yang belum masuk dalam catatan resmi.
Wonosari hari ini berada di tengah aktivitas pusat Kabupaten Gunungkidul. Namun di balik kesibukan tersebut, kehidupan tujuh padukuhan terus berjalan dan sejarahnya masih memiliki ruang untuk terus ditulis.
wartakawak.com