Mulo, Jejak Permulaan Gunungkidul yang Tumbuh dari Tanah, Tradisi, dan Potensi Warga
Berada di Kapanewon Wonosari, Kalurahan Mulo menyimpan kisah panjang tentang asal-usul wilayah sekaligus potensi pertanian, kerajinan, kuliner, dan wisata yang terus berkembang bersama masyarakatnya.
WONOSARI - Mulo tidak hanya sebuah nama yang ditemui di jalur menuju kawasan selatan Gunungkidul. Di wilayah Kapanewon Wonosari ini tersimpan cerita tentang sebuah permulaan, sekaligus kehidupan masyarakat yang tumbuh dari pertanian, usaha rumahan, kerajinan, hingga pariwisata.
Secara administratif, Kalurahan Mulo berada di Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. Wilayahnya berbatasan dengan Kalurahan Duwet di sebelah utara, Tanjungsari di selatan, Wunung dan Wareng di barat, serta Pacarejo di sebelah timur. Pemerintah Kalurahan Mulo membagi wilayahnya ke dalam tiga padukuhan, yakni Kepil, Mulo, dan Karangasem.
Nama Mulo dan cerita tentang permulaan
Ada cerita panjang di balik nama Mulo.
Dalam sejarah yang dimuat Pemerintah Kalurahan Mulo, terbentuknya Mulo dikaitkan dengan perjalanan Ki Mangun Geneng, seorang pengikut wali yang melakukan perjalanan ke arah selatan. Setelah melakukan semedi atau pertapaan, ia kemudian mendirikan sebuah permukiman yang diberi nama Mulo.
Nama tersebut dimaknai sebagai “permulaan” atau dalam bahasa Jawa disebut “wiwitan”. Dalam kisah sejarah yang diwariskan kalurahan, Mulo disebut sebagai wilayah yang telah berdiri sebelum Wonosari terbentuk dan bahkan sebelum Indonesia merdeka. Ki Mangun Geneng kemudian dikenal sebagai pendiri sekaligus lurah pertama Mulo.
Sejarah Mulo juga bersinggungan dengan kisah Kanjeng Pangeran Mangku Bumi. Dokumen RPJM Kalurahan Mulo mencatat bahwa pada 1821, Pangeran Mangku Bumi bersama pengikutnya pernah mendirikan kraton di Alas Bentar, wilayah yang kini berada di Padukuhan Karangasem. Namun, keberadaan kraton tersebut tidak berlangsung lama dan Pangeran Mangku Bumi kemudian melanjutkan perjalanan ke arah selatan.
Kisah-kisah tersebut membuat Mulo mempunyai lapisan sejarah yang lebih panjang daripada sekadar nama sebuah wilayah. Di sana, cerita tentang orang-orang terdahulu masih menjadi bagian dari cara masyarakat mengenali tempat tinggalnya.
Kehidupan yang bertumpu pada tanah
Di balik cerita sejarahnya, kehidupan Mulo juga lekat dengan aktivitas pertanian.
Dokumen RPJM Kalurahan Mulo mencatat bahwa pertanian menjadi salah satu mata pencaharian penting masyarakat. Tanaman yang tercatat antara lain padi ladang, jagung, palawija, dan singkong. Data yang sama juga mencatat keberadaan peternakan sapi, kambing, ayam, dan sejumlah jenis ternak lainnya.
Pada tingkat masyarakat, pertanian bukan hanya berbicara mengenai hasil panen. Ia juga menjadi bagian dari ritme kehidupan sehari-hari: mengolah lahan, merawat ternak, menjaga pekarangan, dan mencari penghasilan dari apa yang bisa tumbuh serta diolah dari lingkungan sekitar.
Data dalam dokumen tersebut juga mencatat petani sebagai salah satu kelompok pekerjaan terbesar di Mulo.
Dari hasil kebun menjadi produk warga
Potensi Mulo tidak berhenti pada hasil pertanian.
Pemerintah Kalurahan Mulo pernah mencatat berbagai usaha yang berkembang di tiga padukuhan. Di Kepil, misalnya, terdapat produksi madu lanceng dan bakpia yang menggunakan bahan baku dari hasil pertanian setempat. Wilayah ini juga memiliki potensi batu alam.
Sementara di Padukuhan Mulo, masyarakat mengembangkan pengolahan tempe secara manual serta kerajinan berbahan batok atau tempurung kelapa. Bahan sederhana tersebut diolah menjadi berbagai bentuk, seperti gelas, mangkok, teko, celengan, hingga kerajinan berbentuk kura-kura.
Di Karangasem, potensi yang tercatat antara lain produksi emping melinjo dan walang goreng dengan berbagai varian rasa. Selain itu terdapat pula kegiatan konveksi, sementara sebagian masyarakat tetap menggantungkan penghidupan pada pertanian dan perkebunan.
Dari sini terlihat bahwa ekonomi Mulo tidak berdiri pada satu kaki. Ada lahan pertanian, peternakan, usaha rumahan, perdagangan, kerajinan, dan kegiatan wisata yang saling mengisi.
Ngingrong dan wajah wisata Mulo
Salah satu nama yang tidak bisa dilepaskan dari Mulo adalah Goa Ngingrong.
Kawasan ini menjadi salah satu potensi wisata yang dikembangkan di wilayah Mulo. Pemerintah Kalurahan Mulo mencatat sejumlah fasilitas dan aktivitas wisata yang pernah dikembangkan di kawasan tersebut, termasuk Pasar Digital Ngingrong, flying fox, tempat pertemuan, serta fasilitas pendukung bagi pengunjung.
Goa Ngingrong juga pernah menjadi lokasi sebuah peristiwa yang cukup unik. Pada Maret 2022, dua pasangan melangsungkan prosesi pernikahan di kawasan goa tersebut. Pemerintah Kalurahan Mulo mencatat bahwa prosesi itu sekaligus menjadi salah satu cara memperkenalkan destinasi wisata Ngingrong kepada masyarakat yang lebih luas.
Namun, daya tarik Ngingrong tidak semata-mata berada pada aktivitas wisatanya. Kawasan karst tersebut memperlihatkan karakter alam Gunungkidul yang terbentuk melalui proses panjang. Karena itu, pengembangan wisata pada akhirnya juga bersentuhan dengan bagaimana masyarakat menjaga ruang hidup dan lingkungan yang menjadi bagian dari identitas wilayah.
Mulo hari ini
Mulo terus bergerak mengikuti kebutuhan masyarakatnya.
Arsip Pemerintah Kalurahan Mulo menunjukkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir kegiatan di wilayah ini tidak hanya berkaitan dengan administrasi pemerintahan. Ada kegiatan sosial, pendidikan, kesehatan, kebudayaan, pengembangan ekonomi, hingga pembangunan sarana pendukung kebutuhan warga.
Pada 2025, misalnya, pemerintah kalurahan mencatat persiapan pembangunan sumur bor di wilayah Kepil yang berasal dari bantuan BBWS Serayu-Opak. Upaya tersebut diarahkan untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat Mulo.
Di sisi lain, kegiatan budaya juga masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Pada Mei 2025, Kalurahan Mulo mencatat pelaksanaan wayang kulit dalam rangka Bersih Dusun Kepil.
Sementara itu, arsip kalurahan pada 2026 menunjukkan bahwa kegiatan pemerintahan dan pembangunan masyarakat masih berjalan, mulai dari publikasi APBKal hingga kegiatan kesehatan dan pemberdayaan masyarakat.
Mulo dengan demikian bukan hanya tentang masa lalu. Sejarahnya memang panjang, tetapi kehidupan di dalamnya terus berubah.
Ada petani yang masih menjaga lahan, pelaku usaha yang mengolah hasil bumi, perajin yang mengubah bahan sederhana menjadi barang bernilai, warga yang menghidupkan tradisi, serta masyarakat yang mencoba mengembangkan potensi wisata.
Pada akhirnya, cerita tentang Mulo mungkin bukan semata-mata cerita tentang sebuah wilayah yang disebut sebagai “permulaan”.
Ia adalah cerita tentang bagaimana sebuah tempat terus menemukan bentuknya: dari sejarah yang diwariskan, tanah yang dikerjakan, potensi yang diolah, dan kehidupan warga yang berjalan dari hari ke hari.
Mulo mungkin menjadi salah satu bagian dari perjalanan panjang Gunungkidul. Tetapi di balik nama itu, ada banyak kehidupan yang membuat sebuah wilayah tetap memiliki cerita.
wartakawak.com