Siraman, Kalurahan di Wonosari yang Menyimpan Jejak Sejarah dan Tradisi Warga
Berada di Kapanewon Wonosari, Kalurahan Siraman memiliki luas hampir 445 hektare dan dihuni lebih dari 6.000 jiwa. Di balik perkembangan wilayahnya, Siraman menyimpan cerita tentang pusaka keraton, masa perjuangan kemerdekaan, hingga tradisi rasulan yang masih dirawat masyarakat.
Siraman dan cerita panjang di tengah Wonosari
Di tengah perkembangan kawasan Kapanewon Wonosari, Kalurahan Siraman tumbuh sebagai salah satu wilayah yang memiliki perjalanan sejarah panjang. Kehidupan masyarakatnya tidak hanya berkaitan dengan pemerintahan dan pembangunan, tetapi juga dengan cerita masa lalu, tradisi, serta kehidupan sosial yang terus bergerak mengikuti zaman.
Data Monografi Kalurahan Siraman Semester I Tahun 2026 mencatat wilayah ini memiliki luas 444,996 hektare. Secara administratif, Siraman terbagi menjadi 6 padukuhan, 8 RW dan 38 RT. Jumlah penduduknya mencapai 6.314 jiwa yang tergabung dalam 2.002 kepala keluarga. Pemerintah Kalurahan Siraman juga mencatat wilayah tersebut berstatus sebagai Kalurahan Swasembada.
Kantor Kalurahan Siraman berada di Jalan Wonosari–Pulutan Km 1,6, Besari, Siraman, Wonosari. Posisi tersebut menempatkan Siraman dalam kawasan yang terus berkembang bersama pusat aktivitas Kapanewon Wonosari.
Dari Semangkulan dan Seneng
Sejarah resmi yang dimuat Pemerintah Kalurahan Siraman menyebut wilayah Siraman pada masa lalu merupakan gabungan dua wilayah besar, yakni Semangkulan dan Seneng.
Wilayah Semangkulan kemudian dikenal sebagai Siraman I, Siraman II dan Siraman III. Sementara wilayah Seneng berkembang menjadi Besari, Winong dan Seneng. Dari perjalanan tersebut terbentuklah wilayah Siraman yang dikenal masyarakat hingga sekarang.
Nama Siraman sendiri memiliki lebih dari satu versi cerita.
Dalam salah satu versi yang dicatat pemerintah kalurahan, terdapat kisah perjalanan Sunan Kalijaga yang melewati wilayah Semangkulan. Sang wali disebut beristirahat di sekitar sumber air yang memiliki air berlimpah, bersih dan menyegarkan. Dari kisah tersebut kemudian muncul nama Siraman.
Versi lain mengaitkan nama Siraman dengan kisah ditemukannya kembali pusaka Keraton Ngayogyakarta berupa tombak dan cundrik. Pusaka tersebut kemudian dijamas atau dibersihkan menggunakan sumber air yang berada di wilayah tersebut. Tradisi inilah yang dalam cerita sejarah lokal kemudian dikaitkan dengan pemberian nama Siraman.
Kedua cerita tersebut merupakan bagian dari sejarah lokal yang diwariskan dan dicatat oleh Pemerintah Kalurahan Siraman. Keduanya memperlihatkan bagaimana sumber air, perjalanan tokoh dan keberadaan pusaka menjadi bagian dari ingatan masyarakat tentang asal-usul wilayah.
Pernah menjadi bagian dari sejarah perjuangan
Siraman juga memiliki catatan yang berkaitan dengan masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Dalam sejarah yang dipublikasikan Pemerintah Kalurahan Siraman disebutkan bahwa wilayah tersebut pernah menjadi markas besar Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Markas itu disebut berada di kediaman Siman Hadi Wijoyo di wilayah Siraman II.
Catatan yang sama menyebut Siraman juga menjadi lokasi penyerahan kedaulatan oleh Belanda kepada Republik Indonesia pada 24 Juni 1946, yang disebut berlangsung di lapangan sepak bola Desa Siraman.
Jejak tersebut membuat Siraman tidak hanya memiliki cerita mengenai asal-usul nama dan tradisi masyarakat, tetapi juga menyimpan bagian dari perjalanan sejarah di masa awal kemerdekaan.
Tradisi yang tetap hidup
Perkembangan zaman tidak serta-merta membuat tradisi masyarakat Siraman hilang. Salah satu yang masih dikenal adalah rasulan, tradisi masyarakat Gunungkidul yang menjadi ruang berkumpul warga sekaligus ungkapan syukur.
Pada 2024, misalnya, Rasul Padukuhan Siraman II dan Siraman III diisi dengan sejumlah kegiatan, antara lain pengajian, pertandingan sepak bola, pentas tari, campursari, kirim doa, kenduri, kirab gunungan dan pagelaran wayang kulit. Pemerintah Kalurahan menyebut tradisi rasulan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen sekaligus doa untuk keselamatan dan penolakan terhadap bahaya.
Tradisi serupa juga pernah digelar di tiga padukuhan, yakni Besari, Winong dan Seneng. Rangkaian kegiatannya mencakup ziarah kubur, kegiatan keagamaan, jalan santai, pentas seni, kethoprak, kirab, upacara adat hingga wayang kulit.
Pada 2017, Pemerintah Desa Siraman bersama Karang Taruna juga pernah menggelar Gelar Potensi Budaya Desa Siraman. Kegiatan tersebut dirancang untuk menampilkan beragam budaya dari wilayah-wilayah di Siraman sekaligus mendorong masyarakat agar tetap mengenali dan memiliki kekayaan budaya yang diwariskan leluhur.
Gotong royong menjadi bagian kehidupan warga
Kehidupan masyarakat Siraman juga terlihat dari keberadaan berbagai lembaga kemasyarakatan dan kegiatan warga.
Dalam salah satu kegiatan yang dipublikasikan pemerintah kalurahan pada 2025, misalnya, digelar restorasi sosial berbasis budaya Jawa sekaligus lomba Poskamling antarr RW. Kegiatan tersebut melibatkan pemerintah kalurahan, Bamuskal, LPMKal, Karang Taruna, RW, RT serta unsur masyarakat lainnya.
Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan sosial di tingkat padukuhan dan lingkungan masih menjadi bagian penting dalam menjaga kebersamaan warga.
Siraman terus bergerak
Di tengah kuatnya akar sejarah dan budaya, Siraman juga terus berhadapan dengan kebutuhan pembangunan dan pelayanan masyarakat.
Pemerintah Kalurahan menetapkan APBKal Tahun Anggaran 2026 sebagai dasar pelaksanaan pemerintahan, pembangunan, pembinaan kemasyarakatan dan pemberdayaan masyarakat. Penyusunan anggaran tersebut disebut melalui proses perencanaan dan pembahasan bersama pemerintah kalurahan dan Badan Permusyawaratan Kalurahan.
Pada September 2026, masyarakat Siraman juga baru saja mengikuti proses Pemilihan Lurah. Pemungutan suara berlangsung pada 26 September 2026 di TPS yang tersebar di wilayah kalurahan. Berdasarkan hasil yang dipublikasikan Pemerintah Kalurahan Siraman, Sudarmadi memperoleh suara terbanyak dalam pemilihan tersebut.
Perkembangan itu menjadi bagian terbaru dari perjalanan pemerintahan Siraman. Namun, jauh sebelum pemilihan lurah, pembangunan dan administrasi pemerintahan, Siraman telah memiliki cerita panjang yang membentuk identitas masyarakatnya.
Ada kisah tentang Semangkulan dan Seneng. Ada cerita mengenai sumber air dan pusaka. Ada catatan tentang masa perjuangan kemerdekaan. Dan ada tradisi rasulan yang sampai hari ini masih menjadi ruang bertemunya warga.
Pada akhirnya, Siraman bukan sekadar nama sebuah wilayah di Kapanewon Wonosari. Ia adalah ruang tempat sejarah, kehidupan sosial, budaya dan pembangunan berjalan beriringan—dengan masyarakat sebagai bagian utama dari perjalanan tersebut.
wartakawak.com