Wunung, Kalurahan Tua di Wonosari yang Menjaga Jejak Sejarah, Pertanian, dan Budaya
Dari kisah Ki Mangun Geneng dan hutan yang rimbun hingga kawasan wisata serta pertanian, Wunung tumbuh dengan cerita panjang yang masih berhubungan dengan kehidupan warganya hari ini.
WUNUNG tidak hanya tercatat sebagai salah satu kalurahan di Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. Di balik namanya tersimpan cerita panjang tentang perjalanan sebuah permukiman, kehidupan masyarakat yang bertumpu pada pertanian, hingga upaya menjaga budaya dan mengembangkan potensi wilayah.
Menurut dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kalurahan (RPJMKal) Wunung, sejarah kalurahan ini telah dimulai jauh sebelum Indonesia merdeka. Kisah awalnya berkaitan dengan seorang tokoh bernama Ki Mangun Geneng, yang disebut sebagai pendiri sekaligus lurah pertama Wunung.
Nama Wunung sendiri memiliki makna yang dekat dengan gambaran alam masa lalu. Dalam dokumen sejarah kalurahan, Wunung dikaitkan dengan pohon berdaun lebar dan rimbun atau eyup dalam bahasa Jawa. Nama itu disebut berkaitan dengan kondisi wilayah Wunung pada masa lalu yang masih banyak ditumbuhi pepohonan dan hutan yang rimbun.
Dari Ki Mangun Geneng hingga Wunung Hari Ini
Catatan sejarah Pemerintah Kalurahan Wunung menyebut Ki Mangun Geneng sebagai salah satu pendahulu yang melakukan perjalanan ke selatan. Setelah melakukan semedi atau pertapaan, ia kemudian mendirikan wilayah yang diberi nama Wunung.
Kisah itu juga bersinggungan dengan sejarah terbentuknya Wonosari. Dokumen RPJMKal Wunung menyebut putri Ki Mangun Geneng kemudian dipersunting dan menantunya mendirikan Kalurahan Wonosari. Wilayah yang berkaitan dengan kisah tersebut kini berada di Padukuhan Wunung.
Perjalanan pemerintahan Wunung kemudian melewati sejumlah masa kepemimpinan. Dalam catatan resmi kalurahan, nama-nama lurah yang tercatat antara lain Mangun Geneng, Wongso Setiko, Wongso Sumarto, Slamet, Parto Disastro, Darso Suwarno, Sutardi, hingga Sudarto yang tercatat menjabat sejak Desember 2021 dalam dokumen RPJMKal.
Kini, wilayah Wunung terbagi dalam lima padukuhan, yakni Kamal, Wunung, Teguhan, Soka I, dan Soka II. Data pada laman resmi kalurahan yang saat ini ditampilkan mencatat total 3.925 jiwa dalam 1.234 kepala keluarga, dengan 50 RT yang tersebar di lima padukuhan tersebut.
Tanah Pertanian yang Menjadi Bagian Penting Kehidupan
Bentang wilayah Wunung cukup luas. Dokumen RPJMKal 2022–2027 mencatat luas Kalurahan Wunung mencapai 1.045 hektare.
Sebagian besar wilayah tersebut berupa ladang atau tegalan, dengan luas 617,38 hektare. Selain itu terdapat sekitar 113,14 hektare sawah, 140,20 hektare permukiman, dan 160,43 hektare hutan rakyat.
Besarnya lahan pertanian ikut membentuk kehidupan ekonomi masyarakat. Data dalam dokumen tersebut mencatat petani sebagai salah satu kelompok mata pencaharian terbesar, dengan 1.177 orang pada data yang digunakan dalam penyusunan RPJMKal.
Tanaman pangan yang tercatat antara lain padi ladang, jagung, ubi kayu, kacang tanah, dan kedelai. Dokumen kalurahan juga menyebut keberadaan sumur bor sebagai salah satu potensi yang dapat mendukung pengembangan pertanian produktif.
Namun, kehidupan pertanian Wunung juga memiliki tantangan. Dalam pemetaan masalah dan potensi kalurahan, kebutuhan air pertanian dan kekurangan air bersih pada musim kemarau menjadi salah satu persoalan yang dicatat. Di sisi lain, keberadaan bendungan sungai dan embung disebut sebagai potensi yang dapat mendukung kegiatan pertanian dan hortikultura.
Di titik ini, wajah Wunung menjadi lebih mudah dibaca: sebuah wilayah yang memiliki tanah dan potensi pertanian, tetapi juga harus terus mencari cara agar sumber daya air dapat menopang kehidupan warga sepanjang musim.
Berada di Jalur Wisata Gunungkidul
Wunung juga memiliki posisi yang menarik karena berada di jalur wisata Gunungkidul.
Dalam RPJMKal, Pemerintah Kalurahan Wunung mencatat sejumlah potensi wisata, antara lain Pasar Digital Ngingrong serta Goa dan Museum Batu Kars. Dokumen tersebut mengaitkannya dengan kawasan Geopark yang diakui UNESCO dan menyebut kawasan ini memiliki daya tarik tidak hanya untuk wisata, tetapi juga untuk pembelajaran mengenai batuan dan bentang alam.
Potensi tersebut membuka ruang bagi Wunung untuk tidak hanya dilihat sebagai wilayah yang dilalui ketika menuju destinasi lain. Ada sumber daya lokal yang dapat dikembangkan apabila dikelola dengan baik dan tetap memperhatikan kondisi lingkungan serta kehidupan masyarakat setempat.
Dokumen pembangunan kalurahan bahkan menempatkan pertanian dan wisata sebagai dua bagian penting dalam arah pembangunan Wunung. Visi yang tercantum adalah mewujudkan Wunung sebagai kalurahan pertanian dan kalurahan wisata menuju masyarakat makmur, religius, dan berbudaya.
Budaya yang Tidak Ditinggalkan
Modernisasi pelayanan pemerintahan berjalan bersamaan dengan upaya mempertahankan identitas budaya.
Salah satu contohnya terlihat dalam kegiatan pemerintahan Wunung pada 2026. Para pamong kalurahan diwajibkan mengenakan busana tradisional Jawa pada Kamis Pon sebagai bagian dari pelestarian budaya dan penguatan identitas Keistimewaan Yogyakarta.
Tradisi semacam itu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi sebuah wilayah yang memiliki sejarah panjang, pakaian, bahasa, tata kehidupan, dan kebiasaan masyarakat dapat menjadi cara untuk tetap mengingat dari mana sebuah tempat berasal.
Di tengah perubahan zaman, Wunung tidak hanya berbicara tentang pembangunan fisik. Identitas budaya juga menjadi bagian dari kehidupan pemerintahan dan masyarakatnya.
Pemerintahan yang Bergerak Mendekati Kebutuhan Warga
Perkembangan Wunung juga terlihat dari pelayanan publik yang mulai bersentuhan dengan teknologi.
Pada 9 September 2026, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Gunungkidul memberikan pelayanan jemput bola aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD) di Balai Kalurahan Wunung. Pelayanan tersebut memberi kesempatan kepada warga untuk mendapatkan pendampingan langsung dalam aktivasi dan penggunaan IKD.
Di sisi lain, perhatian terhadap keselamatan warga juga menjadi bagian dari perkembangan terbaru Wunung.
Pada September 2026, Pemerintah Kalurahan Wunung bersama BPBD Kabupaten Gunungkidul memulai pembentukan Kalurahan Tangguh Bencana. Sebanyak 30 calon relawan dari unsur pemerintah kalurahan, Bamuskal, tokoh masyarakat, karang taruna, PKK dan unsur lainnya disebut terlibat dalam proses awal tersebut. Pelatihan kemudian dilakukan sebagai bagian dari pembentukan Forum Pengurangan Risiko Bencana di tingkat kalurahan.
Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa kehidupan sebuah kalurahan tidak berhenti pada urusan administrasi. Pelayanan publik, kebencanaan, ekonomi, pertanian, budaya, dan hubungan antarwarga menjadi bagian yang saling berhubungan.
Wunung dan Cerita yang Terus Berjalan
Wunung memiliki cerita yang panjang, tetapi sejarah bukan sesuatu yang hanya disimpan dalam dokumen.
Ia hidup dalam nama padukuhan, dalam tanah yang masih digarap, dalam jalan yang dilewati warga, dalam kegiatan masyarakat, dalam pakaian adat yang dikenakan pamong, serta dalam upaya pemerintah dan warga menghadapi kebutuhan yang terus berubah.
Dari kisah Ki Mangun Geneng dan hutan yang dahulu rimbun, Wunung kini tumbuh sebagai kalurahan dengan lima padukuhan, kehidupan pertanian yang kuat, potensi wisata, serta masyarakat yang terus beradaptasi dengan perkembangan pelayanan dan teknologi.
Pada akhirnya, mengenal Wunung bukan hanya tentang mengetahui letaknya di Kapanewon Wonosari. Lebih jauh, ia adalah tentang melihat bagaimana sebuah wilayah menjaga ingatan tentang masa lalu sambil terus mengurus kehidupan hari ini.
Sebab sebuah kalurahan bukan hanya batas wilayah di peta. Di dalamnya ada tanah yang ditanami, rumah yang dihuni, tradisi yang diwariskan, dan orang-orang yang setiap hari membuat tempat itu tetap hidup.
wartakawak.com